Tampilkan postingan dengan label Yang Iseng. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Yang Iseng. Tampilkan semua postingan

Minggu, 16 Januari 2022

Tentang Self Reward dengan Barang-barang Branded

Ladies, 


Apa kalian pernah bimbang saat ingin membeli tas atau sepatu dengan merk tertentu sebagai self reward? Untuk membantu menjawabnya, saya mau bercerita agak panjang untuk kalian simpulkan. 


--

Delapan atau sembilan tahun lalu, saya lupa persisnya. Saya dan seorang sahabat pernah berjanji, bahwa suatu hari kelak kami akan sama-sama membeli jam Tag Heuer. Merek jam tangan yang sampai saat ini kami susah menyebutnya dengan benar. 


Saat itu, saya dan kawan masih sama-sama hidup sebagai jurnalis ibu kota. Saya dengan gaji Rp 3 jutaan per bulan, sementara kawan saya agak lebih banyak karena dia dari media berbahasa asing. 


Bukan Rolex, bukan juga Audemars Piguet. Dua merek jam tangan yang biasa kami lihat dikenakan oleh para bapak-bapak pejabat tambang. Jam lapis emas bertahta berlian. Cukup Tag Heuer saja, karena bagi kami itu sudah cukup mahal. 


Janji itu kami sebut, bahkan kami tulis di email. Tadinya, kawan saya menyarankan agar dicetak, lalu dipajang biar selalu diingat. 


Pertanyaannya adalah, kenapa harus Tag Heuer?


Alasannya receh, keren aja. Apalagi waktu itu model si jam tangan masih Chris Hemsworth (sekarang udah jadi Brand Ambassador Boss). Waktu itu, kami sering jalan-jalan ke Grand Indonesia. Begitu masuk pintu West Mall, menengok di sebelah kita langsung disambut foto Chris Hemsworth yang super keren sedang memakai Tag Heuer. 





“Behhhh, kita mesti beli ini, biar keren kaya Chris Hemsworth,” begitu kami berkali-kali mengucap tiap melihat gambarnya. Bahkan, kadang saya foto kalau bertemu gerai Tag Heuer dan mengirimnya ke kawan saya, “Kapan ini bakal kebeli?”.


Buat kami, kala itu, kalau kami sudah bisa beli jam tangan Tag Heuer tanpa nyicil dan tanpa mikirin tabungan, berarti kami sudah sukses secara karir. Berarti, separuh mimpi kami sudah tergapai. 


Jadi, kalaupun beli emang buat keren-kerenan aja. Buat self reward, kalo kata istilah anak zaman sekarang. Bukan kebutuhan fungsional. Soalnya percuma, pakai jam tangan juga kalo janjian datangnya tetap ngaret sampe 2 jam, hehe. 


Sekarang, kami sudah berganti profesi dan gaji kami sudah tentu bertambah dari delapan tahun lalu. Apalagi kawan saya, sudah pernah mencicipi kursi direksi.


Tapi, Tag Heuer masih berada di keranjang impian kami. Belum sempat dicheck out. 


Belum sempat, bukan belum bisa.


Bisa sih bisa aja kalau memang kami niat. Tapi, seiring waktu berjalan dan naiknya pendapatan, beban kami juga bertambah. 


Saya, kini menjadi tulang punggung keluarga. Teman saya, juga sudah menjadi ayah dan beranak dua. Kebutuhan kami makin banyak, hidup kami makin kompleks. 


Alih-alih membeli jam tangan, kalau ada uang kami gunakan untuk barang-barang yang fungsional seperti kendaraan, tempat tinggal, atau modal usaha. Ada prioritas-prioritas yang membuat kami mengalah dan menunda untuk bisa sekeren Chris Hemsworth. 


Ketimbang membeli jam tangan seharga Rp 30 juta sampai Rp 50 juta, self reward kami sementara nilainya dikecilkan dulu untuk membeli; sepatu, tas, mainan, dan lainnya yang jadi tren. Di mana kalau dikumpulkan nilainya bisa lebih dari harga jam tangan Tag Heuer, haha. 


Bicara soal self reward dengan membeli barang-barang bermerk, menurut saya sah-sah saja. Apalagi kalau penghasilan sudah mencukupi, asal jangan memaksakan ya. 


Tentunya kan saat penghasilan sudah jauh lebih baik, lingkungan dunia kerja dan orang-orang yang kita temui juga level-nya berbeda. Membeli barang branded, juga bisa bertujuan untuk memberi kesan yang baik pada pemangku kepentingan yang akan kita jumpai. Kesan baik ya, bukan pamer. 


Di sini konteksnya adalah memantaskan diri, sehingga barang mewah yang dikenakan memang sesuai dengan tempat dan orang yang akan kita jumpai.


Misalnya tadi, kawan saya menjabat sebagai direktur. Tidak mungkin dong dia bertemu  pemegang saham dengan gaya seperti sewaktu masih menjadi wartawan. Apalagi direktur merupakan representasi dari perusahaan, penampilannya adalah citra perusahaan.


Self reward dengan membeli barang-barang bermerk ini, bagi sebagian orang masih dinilai negatif. Sebabnya, karena mereka yang menilai melihat dari kacamata mereka sendiri, bukan dari kacamata orang tersebut. 


Padahal kalau dari kacamata orang tersebut, ya sah – sah saja dia membeli tas atau perhiasan, atau baju bermerk. Jabatannya sudah tinggi, ia sudah bekerja sangat keras, dan ia ingin memantaskan diri.


Tak jarang, orang yang menilai negative self reward ini adalah orang-orang terdekat kita. Bisa teman, keluarga, pacar, atau suami/istri. Kalo tetangga mah, diemin aja. Sebab tetangga adalah dekat di tembok, mulut tak digembok. 


Pernah, saya punya pacar yang terheran-heran saat saya membeli baju di Zara seharga ratusan ribu rupiah. Buat dia, itu berlebihan. “Aku tuh pakai baju dari matahari aja, kemeja aku paling mahal cuma Rp 150 ribu,” katanya. 


Saat itu, dia bekerja sebagai manager di sebuah perusahaan IT. Sementara saya, media relations di BUMN pertambangan. 


Sah-sah saja dia menilai seperti itu, tapi gak bisa sembarangan terapkan standarnya pada saya.


Buat saya yang sering bertemu pemangku kepentingan, dengan pendapatan yang cukup, nilai baju Zara itu tidak ada apa-apanya. Toh, ketika saya membeli pakaian itu saya sudah menunaikan segala kewajiban finansial saya. 


Saya kesal, dan menjawab. “Ya gak apa-apa dong, aku beli baju agak mahal karena kan aku tiap hari ketemu orang penting. Kamu pake kaos aja juga gak apa-apa, soalnya ketemunya cuma sama komputer sama abang kantin.”


Gak lama setelah itu, kami putus. Gak mungkin rasanya bersama dengan orang yang bahkan tidak tahu nilai dari pasangannya sendiri. 


Betul, buat saya membeli barang berharga untuk self reward itu artinya bicara soal value. Valuenya, bukan berada pada benda yang kita beli. Bukan pada tas yang seharga jutaan atau ratusan juta rupiah. 


Valuenya, ada di diri kita sendiri, yang memakainya. Bagaimana kita bekerja keras, mencari uang yang halal, skill yang semakin terasah, networking yang lebih luas, dan membuat kehidupan yang lebih baik bagi diri kita sendiri maupun bagi orang banyak. Sehingga akhirnya layak untuk membeli tas atau sepatu tersebut. 


Males banget kan dengerin orang ngomong. “Mending duitnya dipakai buat nabung, beli perhiasan, buat beli yang penting.”


Ya dikira itu semua gak kita lakukan, perkara baju Zara ratusan ribu aja jadi sewot. Padahal buat saya, itu gak seberapa. 





Ketika ada kawan atau orang di sekeliling kita sanggup untuk membeli barang berharga tertentu, kenapa sih mesti dinyinyirin dan di-ciye-in. Toh, selama itu duit mereka sendiri dan tidak ada hak-hak makhluk hidup lain yang terdzalimi, ya bukan urusan kalian. 


Beberapa hari lalu, saya ngobrol via whatsapp dengan beberapa kawan. 


Satunya ada yang bercerita, bahwa selama 10 tahun lebih bekerja belum pernah sekalipun beli tas bermerk. Tas bermerk di sini bukan level Gucci, Prada, atau Louis Vuitton ya. Tetapi di level Coach, Kate Spade, Tory Burch, Fossil dll.


Selama ini, sebagai self reward biasanya ia membeli makanan, tanaman, jalan-jalan dan pakaian sesekali. Kalau dilihat-lihat, itu pun dinikmati bersama-sama. Bukan yang khusus untuk dirinya sendiri.


Semula, dia ingin membeli tas bermerk di atas untuk hadiah ibu mertua atau ibunya. Tapi begitu lihat katalog, dia tergoda. 


Lalu saya bilang, kalau tabungan cukup, tidak menguras gaji, dan memang ingin untuk mempercantik tampilan, beli saja! “You earned it,” kata saya. Dia bilang, dia akan izin dengan suaminya terlebih. 


Please, untuk para suami yang membaca ini. Jika keuangan mencukupi dan apalagi itu diambil dari hasil kerja istri sendiri, izinkan istri kalian menghadiahi dirinya barang-barang untuk mempercantik diri. 


Saya tahu, banyak kawan saya yang mengalah dengan mengatakan, “Mending buat anak” “Mending buat ini, buat itu.” 


Girls, percaya deh, anak-anak bakal lebih bahagia kalau ibunya paham bagaimana membahagiakan dirinya terlebih dulu. Punya ibu dengan tingkat percaya diri tinggi dan tampilan super kece jauh lebih menyenangkan untuk mereka. 


Ada lagi, di sebuah grup whatsapp. Seorang kawan saya hanya iseng memposting gambar tas bermerk, “Duh cakep ya…”. 


Dengan latar belakang profesi dan pendapatannya, barang itu memang cocok dan pantas dibeli olehnya. Eh, tiba-tiba ada yang menyahut. “Duh sayang harga jutaan cuma buat tas, mending beli emas deh.”


Eh, Maemunah! Gak semua orang-orang ngoleksi emas kaya inang-inang di Monas yaaaa…


Kalau kalian Sukanya beli emas ya silakan kalau ada duit segitu mending beli emas, tapi jangan suruh yang lain menyamakan standar dengan kalian. 


Saya misalnya, tidak suka koleksi perhiasan emas. Saya lebih suka koleksi mainan, buku, dan merchandise Kpop. Untuk mainan dan buku, saya berniat akan mewariskan cerita-cerita ini ke anak-anak saya. Buat saya, itu lebih seru ketimbang memberikan anak saya nanti emas dan perhiasan lainnya. 


Ladies, balik lagi soal self reward dengan barang branded. Kalau kalian masih bimbang, coba pikirkan diri kalian dulu sekali-kali.


Kalau tidak sampai menguras tabungan atau gadai rumah, kalau semua kebutuhan pokok keluarga atau sendiri sudah terpenuhi, kalau semua kewajiban finansial sudah dituntaskan, dan jika barang ini bisa membuat kamu merasa lebih cantik dan kece, belilah!


Kalian sudah bekerja keras, jadi “You earned it!”


Buat para suami , jika istri kalian ingin membeli suatu barang untuk mempercantik dirinya tanpa menganggu atau mengguncang keuangan bersama. Izinkan!


Buat para pacar, diem aje diem! Kalian belum punya hak buat melarang-larang pasangan beli barang-barang tadi selama itu dibeli bukan pakai duit kalian.


Ingat ladies, you earned it! 



Sabtu, 22 Februari 2020

Habibie, SBY, dan Ashraff

pic cr to Tribun 


Tiga pria ini sukses bikin air mata wanita se-Indonesia Raya menetes tanpa henti selama berhari-hari. 

SBY dan Habibie sama-sama pernah jadi presiden. Sementara Bunga Citra Lestari (istri Ashraf), pernah berperan menjadi Ainun dalam film Habibie & Ainun.

Selain irisan kisah hidup karena profesi yang mereka jalani, ketiga pria ini punya satu kesamaan yang disoroti oleh public: cerita cinta yang luar biasa.

Mereka, bisa dibilang kini menjadi sosok pria yang akan (atau sudah) menjadi benchmark nasional untuk lelaki idaman. 

Saat Pak Habibie meninggal, hampir seluruh perempuan mengingatnya sebagai suami yang menangis tersedu di samping makam sang istri. Tangisan dan rautnya saat itu, mutlak menyentuh hati seluruh wanita yang menonton momen pemakaman di layar tv nasional. 

Yah, kita ingat sih bahwa Pak Habibie pernah sukses menciptakan pesawat, menjadi presiden, dan membuat rupiah perkasa melawan dolar.

Tapi bagi kami, segala prestasinya (dan kontroversinya) tetap tak sekuat dan tak sebanding dengan tangisnya yang luruh saat Ibu Ainun tiada. 

Rasa kehilangan Habibie atas kepergian belahan jiwanya seakan menggema. Pak Habibie tidak perlu berkata-kata, saat dia menangis kami semua ikut menitikkan air mata. 

Sesuatu yang tulus, memang tak perlu dibungkus apapun untuk dapat terlihat indah dan diterima kita semua. 

Hal yang sama juga bisa kita lihat saat Pak SBY kehilangan Ibu Ani Yudhoyono. Lepas dari bagaimana dia pernah memimpin negeri ini, semua orang (atau wanita tepatnya) ikut simpatik melihat raut dukanya ketika Ibu Ani pergi.

pic cr to detik


Kita semua tahu, Pak SBY sama sekali tidak beranjak dari sisi Bu Ani selama beliau sakit. Begitu juga Pak Habibie kepada Bu Ainun.

Momen saat Pak Habibie dan Pak SBY bertemu, pesan gambar-gambar yang terjepret kamera pewarta atas dua pria ini sudah cukup terbaca tanpa perlu ditulis.

Habibie kepada SBY saat itu, seakan berkata.. “I Feel You, Bro” 

Dua presiden, dua laki-laki yang pernah memimpin ratusan juta penduduk se-nusantara. Tak malu menangis terisak saat kehilangan belahan jiwanya. Bu Ainun dan Bu Ani mungkin tak bisa menatap wajah suami mereka ketika pergi, tapi kita semua melihatnya. 

Bu, kami semua sangat berterima kasih karena telah menunjukkan bahwa cinta sejati itu masih ada.

Kita sering membaca berita bahwa betapa Pak Habibie tak pernah absen mengunjungi makam Bu Ainun, begitu juga Pak SBY.

Keduanya, jika bercerita tentang mendiang istri mereka juga tak sanggup menahan laju air mata. Siapapun pasti bakal tersentuh dengan kisah mereka. 

Kamis, 22 Agustus 2019

Pecel Ayam & Pertemanan dengan Vegetarian "KW"




Ini cerita sebenarnya sudah lama, tapi wajib diceritakan lagi biar tidak lupa. Kebetulan juga hari ini saya ingin menulis sesuatu di luar berita, dan hal-hal berat. 

Cerita ini nyata, terjadi beberapa tahun lalu Mungkin sekitar 2012 sampai 2014. Kisah tentang 3 orang yang mau tidak mau akhirnya bersahabat, yakni saya, Ayu, dan Rangga. 

Kami waktu itu sama-sama jadi wartawan dan nge-pos bareng di kementerian energi. Bareng bersama kawan-kawan lainnya, kalau selesai liputan kami pasti berburu makanan. Begitu juga kalau di press room, kami lebih banyak mengunyah ketimbang menulis. Bentar-bentar pencet telepon kantin.

Pesannya sendiri, tapi dimakannya rame-rame. Jadi ibu dan mas-mas kantinnya capek. Misal, yang pertama pesan Ayu. Dia pesan teh manis anget, indomie, dan roti bakar. Nanti yang ngabisin saya dan Rangga. Terus disusul Rangga yang pesan. Nah, kalo saya.... paling belakangan dan males. Soalnya kan udah makan punya Ayu dan Rangga, ngapain beli lagi?

Begitu pertemanan kami berjalan berbulan-bulan, sama-sama makan bareng, kerja bareng, karaoke bareng. 

Sampai suatu saat, saya dan Ayu ketemu mbak-mbak humas. Kebetulan, Mbak humas ini abis nemenin wartawan-wartawan dinas luar kota ke lokasi proyeknya, salah satu pesertanya adalah Rangga. Saat bertemu kami, Mbak Humasnya ini cerita dengan sangat antusias.

"Aduhhh iyaa, kemarin ada Rangga. Kasihan deh, dia kan vegetarian, jadi agak susah makanannya. Sementara di sana adanya seafood doang."

Begitu denger mbaknya bilang Rangga adalah vegetarian, risoles kentang saya langsung jatoh ke tatakan piring. "Hah, vegetarian?" 

begini kira-kira ekspresi saya dan Ayu waktu itu 


Saya dan Ayu sontak lirik-lirikan. "Emang Rangga Vegetarian?" Tanya Ayu, "Lah, kemaren dia ngembat pizza banyak," saya coba mengingat.
"Lah iya, Mbak. Kemarenan kan dia juga makan bakso."

Lalu, saya dan Ayu mencoba mengingat makanan apa saja yang pernah kami lihat Rangga mengunyahnya; pizza, martabak, cilok, bakso, somay, gado-gado, gorengan, roti bakar, indomie telor, mie ayam, ketoprak, nasi gila, hampir semua. 

VEGETARIAN DARI MANANYA?

Besoknya, saya dan Ayu ketemu Rangga. Hal yang pertama kami tanya adalah, "Mabs, emang lau vegetarian?" 
"Iya nih, lo kemaren makan pizza, bakso, ketoprak, gue sampe bingung pas ada yang bilang lau vegetarian," Ayu menimpali.

Rangga pun bingung menjawabnya. "Begini Mabs, kan repot kalo gue jawab sama mbak-nya kalau gue ga bisa makan daging-dagingan langsung. Daripada repot, mending gue bilang gue vegetarian."

Oalaaaaaaa, jadi Rangga bukan vegetarian tapi memang usus dan mulutnya aja yang gak elite. 
Tapi jujur, baru kali ini saya dan Ayu tahu bahwa Rangga gak bisa makan daging. Lantas, apakah kami langsung menghormati pilihan gaya hidup kawan kami?

ENGGAK dong!
Salah sendiri lah gak bisa makan daging, masa kita diajak susah juga. Justru begitu dia bilang gak bisa makan daging, kalo soal makan kami malah milih tempat yang banyak daging sedikit sayur. Paling dia cuma bisa bilang, "Suek."

Rabu, 03 April 2019

Cerita Cinta yang Benar-Benar Buta!

Mumpung sedang lowong, kali ini gue ingin bercerita tentang sepasang kawan yang kadar cintanya berlebihan.

Sebenarnya, gue pernah menceritakan pasangan ini di blog yang serba tidak jelas dan dibikin saat-saat masa galau dulu; di sini

Nah, ini masih membahas pasangan yang sama. Sebut saja nama mereka adalah Hani dan Bani. Hani si perempuan, dan Bani si lelaki.

Hani ini jurnalis ekonomi, kini sudah menikah dengan Bani dan memiliki putri yang lucu. Meski berkawan bertahun-tahun dengan Hani, kadang sampai sekarang gue gak ngerti bagaimana cara dia memandang dunia dan isinya.

Tiga tahun lalu, waktu kami masih hobi nonton drama Korea di Press Room Kementerian ESDM. Gue iseng bertanya pada Hani untuk menguji rasa cintanya dia pada Bani – yang waktu itu masih pacarnya.

“Han, Lee Min Ho sama laki loe gantengan mana?”

Ini Lee Min Ho, pic courtesy @li_min_ho_official


Hani jelas menjawab pacarnya lebih ganteng. Tapi bukan itu yang membuat gue terkezut. Yang bikin gue shock adalah kalimat lanjutannya.

“Jelas Bani lah, Mbak. Lagian si Lee Min Ho kan mirip MS Hidayat!”

MS HIDAYAT, mohon maaf ini buat yang belum tahu Pak MS Hidayat, ini bapak mantan Menteri Perindustrian. Gue shock lah. 

MS HIDAYAT MIRIP LEE MIN HO DARI MANANYAAA????



(Gue sebenernya mau bilang ; MS Hidayat ganteng belah mananya?? Tapi takut kualat kan).

Singkat cerita, tiga tahun kemudian setelah pernyataan itu, saya pikir Hani sudah sembuh. Tapi ternyata enggak juga tuh.

Intinya, awal Maret lalu kami janjian untuk kondangan ke Padang karena salah satu kawan karib kami akhirnya menikah. Setelah memacari 13 anak gadis tanpa memberi kepastian. 

Waktu mau ke Padang, Hani ini ribet banget. Nanya-nanya mulu kaya wartawan. Ya, emang profesinya sih.

Mbak, lo ikut ga?”
“Ikut, kenapa emang?”
“Kalo lo ikut, gue pengen bawa anak gue. Kalo lo gak ikut gue jalan sendiri aja. Anak gue ama bapaknya.”
“Lah, ngapa bisa gitu? Gue entar jagain anak lo?”
“Kagak Mbak, kalo ada loe kan anak gue ada temen mainnya.”

Gue bingung ini, anak dia itu umurnya 3 taon. Gue 30 tahun. TEMEN MAIN DARI MANA, YA TUHANNNNN!

Jawaban dia simple;  “Ya kan lo berdua sama-sama suka Elsa Frozen!”

Ya kalo gitu caranya AKU BERTEMAN DENGAN SELURUH BOCAH DI PENJURU DUNIA DONG! Biarlah sudah LET IT GOOO!


Alhasil, ujungnya si Hani gak jadi bawa anaknya. Bukan karena gue gak mao nemenin dan maen frozen-frozenan, tapi karena tiket pesawat yang naiknya lebih cepat dan tinggi dibanding kenaikan gaji. 

Sampai di Padang, siang jelang sore. Kami memutuskan ke Bukit Tinggi dulu buat cari makan dan foto-foto. 

Perjalanan dari Bandara ke Bukit Tinggi ada kali sekitar 2 jam. Nah, sepanjang jalan ini lah gue rasanya mau muntah. Bukan karena jalanan di Padang naik turun dan meliuk-liuk, tapi karena kelakuan si Hani. 

Loe bayangin aja, saat mobil naik turun. Tiba-tiba Hani berceloteh. 

“Mbak, Hamish Daud ganteng ya.”

Gue Diemin.

“Hamish Daud ganteng ya, Mbak ya! Kaya lakik gue, Bani!”

ASTAGFIRULLOH, “SITU RAISA YA?” -> spontan gue teriak. Intinya gue berargumen, dilihat dari sisi mana sih suaminya itu mirip Hamish Daud. Kan Kelen tahu lah seganteng apa Hamish Daud. 

Mohon maaf ya para penggemar Hamish Daud


Hani masih kekeuh, “Ya Mbak, coba lo liat deh. Laki gue sekarang agak gemukan Mbak, kalo dilihat-lihat bisa mirip Hamish Daud.”

Gue tantang untuk cek Instagram Hamish Daud. 

Lalu, dia scroll sampai bawah. “Iya Mbak, kok gak ada ya. Perasaan kalo gue liat muka Bani mirip kok.”

JADI INI RAISA KW PAKE PERASAAN SAJAH SODARA-SODARA.

TIAP LIHAT MUKA SUAMINYA DIA PIKIR MIRIP HAMISH DAUD. TAPI DIA TIDAK PERNAH CEK DAN KONFIRMASI DENGAN FOTO HAMISH DAUD SENDIRI.

guling-guling dulu biar sehat jiwa inih


Lelah hamba. 

Sabtu, 19 Januari 2019

Pertemanan (Ceritanya) Kepingin Sehat

Seperti orang kebanyakan, setiap awal tahun pasti dimulai dengan resolusi. Apa yang mau dicapai tahun ini?

Dan seperti tahun-tahun, atau bahkan dekade, sebelumnya. Resolusi 2019 pastinya masih tetap mainstream; pengen kurus, pengen sehat, pengen hemat, pengen kawin, pengen kawin lagi..eh. Gitulah.

Nah, menurut penelitian orang-orang yang kerjanya meneliti dan kami tinggal baca, agar suatu impian atau resolusi bisa terwujud ada baiknya dilakukan secara berkelompok. 

Sama toh seperti kerja kelompok, mau tidak mau pasti kelar, meskipun yang kerja akhirnya cuma seorang. Mungkin itu alasannya, kenapa berkelompok selalu sukses. Meski ada yang dikorbankan. 

Kebetulan, saya punya geng yang sangat-sangat tidak jelas. Isinya orang-orang yang punya keinginan fisik warbyasa dengan nafsu makan dan jajan yang tak kalah juara. Sebut saja nama sebenarnya; Gue, Rangga, Iwan, Abud, Maik. 

5 sekawan ini mulai resah dengan bentukan badannya, dan ingin sehat di tahun ini. Kami ingin punya pertemanan sehat seperti Dian Sastro dan kawan-kawan. Pertemanan yang kalo janjian lari bareng di Jerman, atau buka restoran diet di mal. 

Kek gini loh contoh pertemanan sehat. Pic by Hitts via Google


Bukan pertemanan yang kalo janjian buat; males datang pagi ke kantor, mabur nonton, bagi donlotan, atau janjian nirfaedah lainnya. Kami ingin jadi #Pertemanansehat.

Tapi, berhubung kami masih sebatas kepingin sehat, jadilah saat dilontarkan ide-ide hidup sehat banyak terjadi tawar menawar dan persengketaan di grup BBM. 

Oh iya, kami pake BBM Group, soalnya buat cari duit di #groupwar!  Mayan buat nonton gratis kalo dapat uang di DANA wkwkwkw. 

Ajakan pertama adalah sepekan tanpa gorengan, reaksinya adalah sebagai berikut. Penolakan yang terjadi adalah penolakan kelas berat, ini ibarat tawaran untuk memilih Jokowi sebagai presiden ke kaum kampret atau sebaliknya, tawaran memilih Prabowo ke kaum cebong. Mustahil disepakati. 

Seminggu Tanpa Gorengan, Berat!

Minggu, 15 April 2018

Resepsi A La Drama Korea




Kali ini gue mao nulis tentang resepsi pernikahan a la drama Korea, tapi tentunya bukan nikahan gue dong… secara sampai saat ini yang sah gue pelok tiap malem masih guling, bukan orang.

Sekitar dua pekan lalu, di tengah kesibukan bekerja, gue mendapat pesan whatsapp dari seorang kawan, yang juga adik kelas dan teater sewaktu sma, dan sama-sama pencinta Korea-Korean. Sebut saja Debby, nama kawan gue itu.

Debby mengirim pesan pada Kamis malam, mengundang untuk hadir di resepsi pernikahannya pada Sabtu sore, di sebuah restoran di kawasan Dharmawangsa. Sungguh undangan yang mendadak, seperti tahu bulat yang digoreng di mobil bak.

Meski mendadak, gue gak begitu kaget  karena sebelumnya Debby juga udah ngobrol-ngobrol soal rencana dan persiapan nikahnya sejak beberapa bulan sebelumnya, saat terakhir kali gue ketemu dia. Dan sewaktu ngobrol, dia juga bilang akan ngundang, dan gue berjanji untuk datang.

Sebagai muslimah solehah yang menjadikan janji sebagai amanat yang harus dipenuhi, meski itu jadwal gue balik ke rumah di Bojong Gede, tetep gue bela-belain ke Dharmawangsa di pekan itu (Bojong-Dharmawangsa ini dari segi jarak jauh, dari segi pengejaan nama lokasi juga jomplang yak!).

Di undangan Debby, tertulis syarat-syarat bahwa tamu resepsi tidak boleh menggunakan warna putih, biru, dan dianjurkan menggunakan sepatu kets karena tema pernikahannya seperti pesta kebun.

kostum sepatu para hadirin sesuai undangan

Untung gw pengalaman nih ama kawinan-kawinan macem gini (pengalaman datang kondangan doang, belom kawinnya). Meski dianjurkan pakai sepatu kets, mohon maaf..buat Mbak Goes, gaya adalah segalanya.

Gaya Mbak Goes kondangan dadakan dan sendal cetar 


Kebetulan lagi pengen pake baju terusan, dan kalo sampe pake sepatu kets… sungguh orang bakal lebih mengira gue hadir ke kawinan yang bertema “bengkel party” ketimbang “garden”, bayangkan kostum di atas tadi, kalau sandal cetar itu gue ganti sepatu, gue lebih cocok jadi montir.

Setelah menempuh perjalanan – naik ojek, naik kereta, naik taksi- akhirnya sampailah gue ke Dharmawangsa, dan begitu masuk ke tempat resepsinya… OMG INI RESEPSINYA KAYAK DI DRAMA-DRAMA KOREA… and I love it!

FYI, Debby memang pencinta Korea..tapi levelnya jauh lebih gila dibanding gue. Debby itu Ketua Fans Club Hyun Bin Indonesia, jago Bahasa Korea, punya Kafe Korea di Depok, dan sekarang dapat SUAMIK ORANG KOREA!

GUE MAH PENGGEMAR KOREA CEMEN KAYA NI BOCAH 

Gue sedikit tahu tentang kisah cinta Debby dan suaminya, hubungan mereka ini sudah terjalin bertahun-tahun dan melewati naik turun hubungan yang luar biasa, apalagi dengan segala perbedaan yang ada di mereka berdua.

(Sungguh kisahnya kayak Drama Korea juga…Ya Alloh Debby!)

Debby memang pernah cerita kalau dia ingin dapat pasangan lelaki Korea, dan itu sampe dia tulis di gembok cinta di Namsan Tower (bukan gembok cinta KW di Aeon Mall Bekasi!). Tentunya keinginan dia ini dia sertai dengan usaha nyata, seperti belajar Bahasa Korea, pergi ke Korea dan lainnya.

Gak kaya gue, ngimpi  doang pengen dapet lakik kaya Gong Yoo, sementara Debby sibuk belajar Bahasa Korea, gue sibuk ngemil Cilok.

Ketika Debby nabung supaya bisa nempel impiannya di gembok Namsan Tower, gue sibuk ngumbar-ngumbar duit beli martabak.

Ketika Debby sibuk dengan kegalauan kisah cintanya, galau gue cuma sebatas bingung enakan makan martabak manis, asin, atau martabak gratis.

RECEH DAH GW KEK KOIN BUAT KEROKAN 


Yah, intinya Debby bener-bener berupaya menggapai satu demi satu mimpinya. Dan gue bangga menjadi saksinya!



Minggu, 04 Maret 2018

Naik Bianglala dan Kuliner di AEON Mall Cakung

Hai para pembaca,

(yang belum membaca belum hai…apa dah!)

Jadi begini, rencana semula gue dan kawan-kawan akan menghabiskan akhir pekan ini di sebuah villa di puncak, Bogor. Acara sudah disiapkan sejak berbulan-bulan sebelumnya, maklum karena kebanyakan personel adalah wartawan dan kadang Sabtu-Minggu harus masuk jadi harus disetting jauh-jauh hari agar tidak mengganggu kinerja.

Tapi apa daya, musibah terjadi sehingga villa tidak bisa digunakan tepat 3 hari sebelum liburan berlangsung. Nah, berhubung kami sudah stress berat butuh liburan, dan mumpung ada waktu bisa libur bareng-bareng akhirnya memutuskan untuk liburan di Jakarta ajah.

Kami yang dimaksud yakni gue, Ayu, Mbak Fenny, dan Mbak Ira yang kebetulan satu apartemen. Tapi ya itu tadi, karena kesibukan masing-masing, boro-boro sering ngobrol mah jam kerjanya aja pada gak ketemu, LOL. Anggota apartemen baru komplit kalau di atas jam 10 malam, dan itu pun udah jam bobo.

Ayu semula mengusulkan ke Kelapa Gading untuk wisata kuliner, tapi dulu kita sempat baca-baca soal wahana ferris wheels di AEON Cakung. Jauh sih, tapi apa salahnya dicoba, sekali-kali main jauh. Akhirnya kita ubah tujuan ke Cakung.

Seperti biasa gue urusan riset wahana dan makan di mana kalo jalan-jalan. Supaya sampai di tujuan kita efektif jadwalnya.

Membulatkan niat, setelah usai bekerja rata-rata sampai siang hari, kami berangkat ke AEON Mal Jakarta Garden City yang ada di Cakung. Jaraknya dari tempat kami sekitar 32 km, dengan jarak tempuh 1 jam kalo gak macet. Alhasil?? Perjalanan lebih dari 1 jam karena macet bingitz.

Penampakan mal, sudah keliatan kan bianglalanya?


Ini adalah mal terjauh yang kami kunjungi di Jakarta, tapi karena lagi niat akhirnya bisa sampai juga.

Sewaktu awal melihat, jujur gue terpana dengan perkembangan Cakung-Cilincing saat ini dibanding keadaan dua wilayah itu 7-8 tahun lalu sewaktu gue masih jadi wartawan perkotaan dan ngepos di Jakarta Timur.

Ya udah balik lagi ke AEON Mal Cakung, ini saudaranya AEON Mal yang ada di Tangerang itu. Hampir semuanya mirip, kecuali bagian adanya wahana bianglala atau ferris wheel ini.

Untuk ke wahana ini, begitu masuk mal-nya langsung ke lantai paling atas aja. Terus, siapkan uang tiketnya sebagai berikut:

Tiket J-Sky (baru sadar itu namanya)


-       Rp 50 ribu untuk tiketnya per orang.
-       Kalau kamu couple dan pengen berduaan aja, bisa bayar yang versi couple yakni Rp 160 ribu.
-       Kalau pengen dapat yang interiornya bagus atau sekeluarga , dengan maksimal 7 orang, bisa pesan yang paket family atau VIP seharga Rp 350 ribu.

Tapi gue kasih tahu aja, mending ambil per orang aja Rp 50 ribu, kalo antrian gak padat banget, satu gondola bianglala bisa diisi kamu berdua doang kok. Gak kaya naek angkot yang harus isi 6 dulu baru bisa jalan.

Bianglala

Biangsaja bila kau mau...biangsaja bila kau mau, katakan sesungguhnya, pada dirinyaaa..lalala


Karena bianglala terus muter, pelan-pelan sih, kalo muternya cepet jadi biang kerok dong (apa sih), jadi sewaktu naiknya kita kaya naik metromini yang disetop tapi gak mau berhenti..cuma pelan-pelan jalan ajah.

Jadinya, kalau turun bianglalanya, ya kaya turun metromini atau kopaja, kaki kiri duluan untuk pijakan.

Durasi naik bianglala ini sekitar 15 menit, gak lama emang, dibandingi ama ferris wheel di Singapore yang bisa 30-40 menit, ya bayarnya juga beda ya bok.

Bianglala ini sangat direkomendasikan buat kamu yang ingin beromantis ria, atau menyatakan cinta. Kalau cinta diterima, turun bianglala lanjut jalan-jalan pegangan tangan atau pasang gembok cinta di lokasi dekat bianglala.

Cekrek, Mupeng, Upload!!! 


Kalau cinta kamu ditolak, buka pintu bianglalanya terus langsung jorokin aja ke bawah si orang yang nolak kamu barusan.

Ala ala Namsan Tower 


Eh ngomong-ngomong gembok, di sini juga disediakan gembok-gembok cinta ala Namsan Tower di Korea itu. Tadinya gue mau beli, tapi bukan tulis nama pasangan. Yang mau gue tulis adalah nomor rekening tabungan, biar awet hubungan gue ama duit-duit gue. Harganya sekitar Rp 25 ribu satu gembok.

Usai naik bianglala, area sekitar bianglala itu luas banget dan ada banyak jajanan. Buat yang berkeluarga jadi bisa habiskan waktu di sana lebih banyak, karena ada arena bermain buat anak-anak.

Arena bermain dari atas bianglala 


Ini kreatif sih jadi kalau ke Mal gak melulu cuma belanja, tapi ruang publiknya gede jadi bisa buat anak-anak (ya namanya Mal Jepang ya..niat bikinnya).

Kelar foto-foto di area bianglala, kami pun sibuk cari makanan di lantai ground floor, dan sesuai hasil riset kita makan di Tokugawa Okonomiyaki.

Mas Mas Tokugawa yang masak depan kami..... ketika kami kelaparan!


Gue pesen fried rice dan beef okonomiyaki-nya dan dua-duanya ini…enak banget. Terutama nasi gorengnya ya!

Beef Okonomiyaki 

Nasi Goreng Paling Ena!

Eh gila, gue pesen dua? Iya, selow, abis kok dua-duanya.

Makan beres, kami bergeser ke AEON supermarket untuk beli es krimnya yang legendaris itu, cuma Rp 10 ribu tapi enak beut. Ada rasa baru sebenernya Strawberry dan Cokelat, atau bisa dimix, tapi lagi habis sayangnya.

Ya gapapa, yang vanilla green tea juga enak.

Udahlah cuma Rp 10 ribu tapi ena banget



Pas di supermarket, kami memutuskan sekalian belanja bulanan kebutuhan (perut) kami. Buat produk-produk asal Jepang di supermarket ini harganya lebih murah loh! Misal biore tisu pembersih, yang di mal-mal biasanya Rp 90 ribuan, di sana bisa cuma Rp 74 ribu. WOW.

Senengnya lagi tuh, ada jajanan unik yang kami temuin di sana. Di antaranya adalah Es Krim Milo dari Nestle!!

Rasanya Milo Banget!! (Ya iyalah!)


Sebetulnya gue udah kenyang, tapi kan susah nemuin beginian, ya dibelilah….dan ternyata enak. (Apa coba yang ga enak?!).

Bonus nemu beginian juga, beng-beng ala-ala toblerone oleh-oleh tiap ada yang ke Singapore


Ya udah, sesungguhnya warga Cakung dan Bekasi bisa berbahagia dengan kehadiran mal ini..Tapi kami, udah cukup sekali aja ke sana. Meskipun seru, ku tak mau kedua kali pergi ke Cakung karena jauhnya minta ampun.

Okay, sekian saja dan selamat jalan-jalan!