Tampilkan postingan dengan label chris hemsworth. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label chris hemsworth. Tampilkan semua postingan

Minggu, 16 Januari 2022

Tentang Self Reward dengan Barang-barang Branded

Ladies, 


Apa kalian pernah bimbang saat ingin membeli tas atau sepatu dengan merk tertentu sebagai self reward? Untuk membantu menjawabnya, saya mau bercerita agak panjang untuk kalian simpulkan. 


--

Delapan atau sembilan tahun lalu, saya lupa persisnya. Saya dan seorang sahabat pernah berjanji, bahwa suatu hari kelak kami akan sama-sama membeli jam Tag Heuer. Merek jam tangan yang sampai saat ini kami susah menyebutnya dengan benar. 


Saat itu, saya dan kawan masih sama-sama hidup sebagai jurnalis ibu kota. Saya dengan gaji Rp 3 jutaan per bulan, sementara kawan saya agak lebih banyak karena dia dari media berbahasa asing. 


Bukan Rolex, bukan juga Audemars Piguet. Dua merek jam tangan yang biasa kami lihat dikenakan oleh para bapak-bapak pejabat tambang. Jam lapis emas bertahta berlian. Cukup Tag Heuer saja, karena bagi kami itu sudah cukup mahal. 


Janji itu kami sebut, bahkan kami tulis di email. Tadinya, kawan saya menyarankan agar dicetak, lalu dipajang biar selalu diingat. 


Pertanyaannya adalah, kenapa harus Tag Heuer?


Alasannya receh, keren aja. Apalagi waktu itu model si jam tangan masih Chris Hemsworth (sekarang udah jadi Brand Ambassador Boss). Waktu itu, kami sering jalan-jalan ke Grand Indonesia. Begitu masuk pintu West Mall, menengok di sebelah kita langsung disambut foto Chris Hemsworth yang super keren sedang memakai Tag Heuer. 





“Behhhh, kita mesti beli ini, biar keren kaya Chris Hemsworth,” begitu kami berkali-kali mengucap tiap melihat gambarnya. Bahkan, kadang saya foto kalau bertemu gerai Tag Heuer dan mengirimnya ke kawan saya, “Kapan ini bakal kebeli?”.


Buat kami, kala itu, kalau kami sudah bisa beli jam tangan Tag Heuer tanpa nyicil dan tanpa mikirin tabungan, berarti kami sudah sukses secara karir. Berarti, separuh mimpi kami sudah tergapai. 


Jadi, kalaupun beli emang buat keren-kerenan aja. Buat self reward, kalo kata istilah anak zaman sekarang. Bukan kebutuhan fungsional. Soalnya percuma, pakai jam tangan juga kalo janjian datangnya tetap ngaret sampe 2 jam, hehe. 


Sekarang, kami sudah berganti profesi dan gaji kami sudah tentu bertambah dari delapan tahun lalu. Apalagi kawan saya, sudah pernah mencicipi kursi direksi.


Tapi, Tag Heuer masih berada di keranjang impian kami. Belum sempat dicheck out. 


Belum sempat, bukan belum bisa.


Bisa sih bisa aja kalau memang kami niat. Tapi, seiring waktu berjalan dan naiknya pendapatan, beban kami juga bertambah. 


Saya, kini menjadi tulang punggung keluarga. Teman saya, juga sudah menjadi ayah dan beranak dua. Kebutuhan kami makin banyak, hidup kami makin kompleks. 


Alih-alih membeli jam tangan, kalau ada uang kami gunakan untuk barang-barang yang fungsional seperti kendaraan, tempat tinggal, atau modal usaha. Ada prioritas-prioritas yang membuat kami mengalah dan menunda untuk bisa sekeren Chris Hemsworth. 


Ketimbang membeli jam tangan seharga Rp 30 juta sampai Rp 50 juta, self reward kami sementara nilainya dikecilkan dulu untuk membeli; sepatu, tas, mainan, dan lainnya yang jadi tren. Di mana kalau dikumpulkan nilainya bisa lebih dari harga jam tangan Tag Heuer, haha. 


Bicara soal self reward dengan membeli barang-barang bermerk, menurut saya sah-sah saja. Apalagi kalau penghasilan sudah mencukupi, asal jangan memaksakan ya. 


Tentunya kan saat penghasilan sudah jauh lebih baik, lingkungan dunia kerja dan orang-orang yang kita temui juga level-nya berbeda. Membeli barang branded, juga bisa bertujuan untuk memberi kesan yang baik pada pemangku kepentingan yang akan kita jumpai. Kesan baik ya, bukan pamer. 


Di sini konteksnya adalah memantaskan diri, sehingga barang mewah yang dikenakan memang sesuai dengan tempat dan orang yang akan kita jumpai.


Misalnya tadi, kawan saya menjabat sebagai direktur. Tidak mungkin dong dia bertemu  pemegang saham dengan gaya seperti sewaktu masih menjadi wartawan. Apalagi direktur merupakan representasi dari perusahaan, penampilannya adalah citra perusahaan.


Self reward dengan membeli barang-barang bermerk ini, bagi sebagian orang masih dinilai negatif. Sebabnya, karena mereka yang menilai melihat dari kacamata mereka sendiri, bukan dari kacamata orang tersebut. 


Padahal kalau dari kacamata orang tersebut, ya sah – sah saja dia membeli tas atau perhiasan, atau baju bermerk. Jabatannya sudah tinggi, ia sudah bekerja sangat keras, dan ia ingin memantaskan diri.


Tak jarang, orang yang menilai negative self reward ini adalah orang-orang terdekat kita. Bisa teman, keluarga, pacar, atau suami/istri. Kalo tetangga mah, diemin aja. Sebab tetangga adalah dekat di tembok, mulut tak digembok. 


Pernah, saya punya pacar yang terheran-heran saat saya membeli baju di Zara seharga ratusan ribu rupiah. Buat dia, itu berlebihan. “Aku tuh pakai baju dari matahari aja, kemeja aku paling mahal cuma Rp 150 ribu,” katanya. 


Saat itu, dia bekerja sebagai manager di sebuah perusahaan IT. Sementara saya, media relations di BUMN pertambangan. 


Sah-sah saja dia menilai seperti itu, tapi gak bisa sembarangan terapkan standarnya pada saya.


Buat saya yang sering bertemu pemangku kepentingan, dengan pendapatan yang cukup, nilai baju Zara itu tidak ada apa-apanya. Toh, ketika saya membeli pakaian itu saya sudah menunaikan segala kewajiban finansial saya. 


Saya kesal, dan menjawab. “Ya gak apa-apa dong, aku beli baju agak mahal karena kan aku tiap hari ketemu orang penting. Kamu pake kaos aja juga gak apa-apa, soalnya ketemunya cuma sama komputer sama abang kantin.”


Gak lama setelah itu, kami putus. Gak mungkin rasanya bersama dengan orang yang bahkan tidak tahu nilai dari pasangannya sendiri. 


Betul, buat saya membeli barang berharga untuk self reward itu artinya bicara soal value. Valuenya, bukan berada pada benda yang kita beli. Bukan pada tas yang seharga jutaan atau ratusan juta rupiah. 


Valuenya, ada di diri kita sendiri, yang memakainya. Bagaimana kita bekerja keras, mencari uang yang halal, skill yang semakin terasah, networking yang lebih luas, dan membuat kehidupan yang lebih baik bagi diri kita sendiri maupun bagi orang banyak. Sehingga akhirnya layak untuk membeli tas atau sepatu tersebut. 


Males banget kan dengerin orang ngomong. “Mending duitnya dipakai buat nabung, beli perhiasan, buat beli yang penting.”


Ya dikira itu semua gak kita lakukan, perkara baju Zara ratusan ribu aja jadi sewot. Padahal buat saya, itu gak seberapa. 





Ketika ada kawan atau orang di sekeliling kita sanggup untuk membeli barang berharga tertentu, kenapa sih mesti dinyinyirin dan di-ciye-in. Toh, selama itu duit mereka sendiri dan tidak ada hak-hak makhluk hidup lain yang terdzalimi, ya bukan urusan kalian. 


Beberapa hari lalu, saya ngobrol via whatsapp dengan beberapa kawan. 


Satunya ada yang bercerita, bahwa selama 10 tahun lebih bekerja belum pernah sekalipun beli tas bermerk. Tas bermerk di sini bukan level Gucci, Prada, atau Louis Vuitton ya. Tetapi di level Coach, Kate Spade, Tory Burch, Fossil dll.


Selama ini, sebagai self reward biasanya ia membeli makanan, tanaman, jalan-jalan dan pakaian sesekali. Kalau dilihat-lihat, itu pun dinikmati bersama-sama. Bukan yang khusus untuk dirinya sendiri.


Semula, dia ingin membeli tas bermerk di atas untuk hadiah ibu mertua atau ibunya. Tapi begitu lihat katalog, dia tergoda. 


Lalu saya bilang, kalau tabungan cukup, tidak menguras gaji, dan memang ingin untuk mempercantik tampilan, beli saja! “You earned it,” kata saya. Dia bilang, dia akan izin dengan suaminya terlebih. 


Please, untuk para suami yang membaca ini. Jika keuangan mencukupi dan apalagi itu diambil dari hasil kerja istri sendiri, izinkan istri kalian menghadiahi dirinya barang-barang untuk mempercantik diri. 


Saya tahu, banyak kawan saya yang mengalah dengan mengatakan, “Mending buat anak” “Mending buat ini, buat itu.” 


Girls, percaya deh, anak-anak bakal lebih bahagia kalau ibunya paham bagaimana membahagiakan dirinya terlebih dulu. Punya ibu dengan tingkat percaya diri tinggi dan tampilan super kece jauh lebih menyenangkan untuk mereka. 


Ada lagi, di sebuah grup whatsapp. Seorang kawan saya hanya iseng memposting gambar tas bermerk, “Duh cakep ya…”. 


Dengan latar belakang profesi dan pendapatannya, barang itu memang cocok dan pantas dibeli olehnya. Eh, tiba-tiba ada yang menyahut. “Duh sayang harga jutaan cuma buat tas, mending beli emas deh.”


Eh, Maemunah! Gak semua orang-orang ngoleksi emas kaya inang-inang di Monas yaaaa…


Kalau kalian Sukanya beli emas ya silakan kalau ada duit segitu mending beli emas, tapi jangan suruh yang lain menyamakan standar dengan kalian. 


Saya misalnya, tidak suka koleksi perhiasan emas. Saya lebih suka koleksi mainan, buku, dan merchandise Kpop. Untuk mainan dan buku, saya berniat akan mewariskan cerita-cerita ini ke anak-anak saya. Buat saya, itu lebih seru ketimbang memberikan anak saya nanti emas dan perhiasan lainnya. 


Ladies, balik lagi soal self reward dengan barang branded. Kalau kalian masih bimbang, coba pikirkan diri kalian dulu sekali-kali.


Kalau tidak sampai menguras tabungan atau gadai rumah, kalau semua kebutuhan pokok keluarga atau sendiri sudah terpenuhi, kalau semua kewajiban finansial sudah dituntaskan, dan jika barang ini bisa membuat kamu merasa lebih cantik dan kece, belilah!


Kalian sudah bekerja keras, jadi “You earned it!”


Buat para suami , jika istri kalian ingin membeli suatu barang untuk mempercantik dirinya tanpa menganggu atau mengguncang keuangan bersama. Izinkan!


Buat para pacar, diem aje diem! Kalian belum punya hak buat melarang-larang pasangan beli barang-barang tadi selama itu dibeli bukan pakai duit kalian.


Ingat ladies, you earned it! 



Minggu, 11 Februari 2018

1 Perempuan Lemah Iman Menonton 12 Strong



Gue tahu kalian semua belum move on dari demam Dilan, tapi izinkanlah gue meripyu film 12 Strong yang sedang tayang di bioskop juga.

Sebenarnya, gue menonton film ini pekan lalu, tapi baru sempat mengulasnya sekarang karena biasa…sibuk bekerja mengejar harta dunia~~



Alasan utama gue menonton film ini sangat jelas, sebagai Chrisology alias penggemar Trio Chris (Chris Pratt, Chris Evans, dan Chris Hemsworth) adalah wajib hukumnya buat gue untuk menonton.

Alhasil gue memantapkan diri dan langkah ini ke bioskop untuk menonton Mas pujaan hati (dan body).

Film 12 Strong diangkat dari kisah nyata , tentang kisah sekelompok tentara yang tergabung dalam Satuan Tugas Gugus Belati dan dikirim dengan misi khusus ke Afghanistan tak lama setelah serangan 11 September 2001.

Satgas ini dipimpin oleh Kapten Mitch Nelson (dibintangi Hemsworth). Mitch memiliki tugas berat, Ia di sana tidak hanya memimpin perang tetapi sekaligus diplomasi. Mitch harus mendekati salah satu petinggi Afghanistan, Jenderal Dostum, dan beraliansi dengan mereka untuk melemahkan Taliban.

Masalahnya, perang di Afghanistan itu  berat. Pertama dari sisi cuaca, bahkan tentara Rusia pun tak sanggup menerjang dinginnya suhu di sana. 

Kedua masalah topografi, lahannya yang berbukit-bukit, padang pasir, dan bercelah hampir mustahil ditempuh dengan kendaraan. Selain jalan kaki, satu-satunya sarana yang praktis untuk bertransportasi adalah naik kuda.

Belum lagi masalah politik para jenderal di sana, meski sama-sama ingin memberantas Taliban, tapi para jenderal ini juga punya ambisi masing-masing untuk kuasai Afghanistan, tipikal.

Sewaktu menonton film ini, gue baru tahu..”Oh yang namanya perang kekinian gini toh.” Soalnya ini beda banget kalo kita nonton perang ala Rambo atau film jadul yang heroik abis itu. Ini mah tentaranya maju ke medan perang, terus mastiin koordinat, lapor ke komando, jeng….bom dijatuhkan. Gitu terus.

Tembak-tembakan ada kalo ; bom habis atau tiba-tiba lawan menyerang pakai tank.

Film ini mungkin agak sensitif buat kalian yang punya jiwa jihad tinggi, karena ini memotret islam dari sisi bagaimana Taliban berkelakuan. Dan biasalah, pengkultusan Amerika besar-besaran, bahwa Amerika adalah penolong dan penyelamat di sana.

Huehuehuehuehue untungnya jiwa dan raga gue sangat retjeh. Biarlah mereview film secara serius dan berat tetap menjadi jatahnya para kolumnis media beneran, dan izinkanlah gue mereview film ini dari sisi tereceh yang pernah ada. Huehuehue.

Seperti gue bilang sedari awal, sungguh niat gue menonton film ini hanya satu…karena ingin melihat Mas Chris.

Melihat Mas Chris jadi tentara itu ya, SUBHANALLOH…. Jadi berasa gak ada apa-apanya KAPTEN YOO SI JIN!!

BEGINI SEMESTINYA TENTARA...LIAR, KASAR!


Ini pun diamini oleh temen gue, “Nah, tentara kayak begini. Jangan kayak Song Joong Ki di DOtS. Pa apaan tentara licin gitu gak ada lecet-lecetnya.”

Kayak gini maksudnya… mari dibandingkan.

Kiri: Tentara Perang Afghanistan, Kanan: Tentara Perang Batin 


Atas: Tentara Perang, Bawah: Tentara Girang 

Nah, begitu…jadi setelah nonton ini gw merasa ditipu habis-habisan sama Yoo Si Jin, tentara apaan kerjaannya pacaran melulu! (Padahal dulu tergila-gila).